Ini Langkah untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah
Ini Langkah untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah

Ini Langkah untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah

Posted on

Ini Langkah untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah – Topik masalah gerombolan mafia tanah sedang jadi pembicaraan khalayak sekarang ini. Hal tersebut tidak terlepas dari peranan bekas Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang berani membuka suara sesudah sertifikat rumah punya ibunya diculik oleh beberapa mafia tanah. Sekarang, penyidik Polda Metro Jaya sudah tangkap 15 orang yang diperhitungkan sebagai gerombolan mafia tanah berkaitan kasus perampokan sertifikat punya Ibunda Dino itu. Salah satunya sebagai dalangnya ialah Fredy Kusnadi yang pernah berkoar-koar menantang Dino. Dino mengutarakan hal tersebut ke khalayak lewat sosial media Twitter kepunyaannya, karena si Ibunda tak pernah jual tempat tinggalnya, tetapi mendadak nama sertifikatnya telah atas nama seseorang.

Ini Langkah untuk Menghindari Jerat Mafia Tanah

“Supaya khalayak siaga : satu kembali rumah keluarga saya dijarah gerombolan maling sertifikat rumah. Tiba-tiba sertifikat rumah punya Ibu saya sudah berpindah nama di BPN walau sebenarnya tidak ada AJB, tidak ada transaksi bisnis bahkan juga tidak ada tatap muka apa saja dgn Ibu saya,” tulisnya. Dengan ramainya praktek beberapa gerombolan mafia tanah, karena itu kesiagaan perlu dilaksanakan tiap orang. Lalu, bagaimanakah cara supaya kasus perampokan sertifikat oleh mafia tanah tidak terulang lagi? Ahli Hukum Pertanahan Instansi Advokasi Customer Property Indonesia Erwin Kallo menjelaskan, minimal ada empat hal yang penting dilaksanakan pemilik sertifikat:

  1. Pakai jasa broker bersertifikat

Saat akan jual property memakai jasa broker, mencari yang sudah bersertifikat. “Jika ia jual gunakan broker, broker itu saat ini telah ada ijinnya, bertanya ijinnya. Saat ini broker itu punyai ijin operasinya,” tutur Erwin, Sabtu (13/2/2021). Jika sudah bersertifikat, broker itu sudah dilatih dan dididik untuk tangani permasalahan jual beli property secara benar. Hingga, bila terjadi suatu hal yang tidak diharapkan, broker bersertifikasi ini dapat bertanggungjawab.

  1. Calon konsumen harus terang

Penjual dituntut untuk ketahui secara jelas siapa calon konsumen property mereka. Erwin menjelaskan, pemilik dapat memakai sosial media atau tehnologi hebat apa saja supaya tahu reputasi sang konsumen rumah. “Maknanya, kehebatan ini, dapat kita check siapakah yang ingin membeli, jadi harus terang,” sebut Erwin.

  1. Tidak boleh beri document saat sebelum transaksi bisnis

Cara ke-3 , penjual dianjurkan supaya tidak asal-asalan dalam memberinya document ke calon konsumen saat sebelum berlangsungnya transaksi bisnis. “Maka saksikan fisiknya saja, jika ingin membeli, ya telah tiba ke notaris atau apa. Kan demikian,” sebut Erwin. Jika sudah percaya beli, sang konsumen akan bertandang ke notaris, dan notaris ini akan memeriksa melalui Surat Info Registrasi Tanah ( SKPT).

  1. Kerap check ke Tubuh Pertanahan Nasional (BPN)

Disamping itu, tambah Erwin, pemilik sertifikat harus kerap memeriksa ke kantor BPN untuk pastikan asetnya tersebut atas nama mereka. “Tak perlu tiap bulan, ya sekurang-kurangnya enam bulan sekali lah, hanya cek-cek saja,” ucapnya.

Jika Anda saat ini memerlukan pengacara perceraian di bali bisa langsung kunjungi website pengacaradibali.com