Cocomesh Solusi Reklamasi

Cocomesh Solusi Reklamasi Bekas Area Tambang

Posted on

Cocomesh Solusi Reklamasi — Halo teman – teman semua! Pada artikel kali ini saya akan menjelaskan tentang cocomesh solusi reklamasi. Cocomesh atau Cocomesh Coir Net adalah jaring yang dibuat dari sabut kelapa dan hampir sama seperti geotextile. Cocomesh juga sering sekali digunakan sebagai bahan untuk reklamasi, penghijauan, dan juga menjaga kestabilan lahan yang miring.

Nah, untuk penjelasan lebih lanjut mengenai cocomesh solusi reklamasi, kalian bisa simak artikel dibawah ini, saya juga akan membagikan beberapa hal mengenai cocomesh jadi pastikan simak artikel ini sampai akhir ya, agar tidak ada yang terlewatkan.

Cocomesh Solusi Reklamasi

Cocomesh

Cocomesh adalah jaringan serabut kelapa yang digunakan untuk membantu proses restorasi bekas lahan tambang, pantai atau hutan dengan sangat baik. Sabut kelapa memiliki sifat bahan kelapa yang mampu menahan air dalam waktu lama, yang menyebabkan kelembapan pada permukaan tanah selalu terjaga.

Dapat mempengaruhi struktur tanah sehingga dapat dengan mudah ditanam dengan cara menanam benih atau benih, selain itu cocomeš merupakan pengganti tanah saat menanam benih atau semai.

Material ini dapat terurai secara alami dan cukup kuat,sehingga dapat membantu memfasilitasi pertumbuhan tanaman baru di ladang Cocomesh yang terletak di lahan bekas tambang. Penggunaan cocomesh telah terbukti dapat menambah hutan pada area bekas tambang atau hutan terbuka. Banyak mantan perusahaan konsultan pertambangan hijau mulai beralih ke bahan alami.

Keunggulan dari bahan sabut kelapa ini adalah dapat bertahan lama sekitar 4 tahun ke atas, sehingga bahan tersebut dapat tumbuh pada saat musim tanam vegetasi baru. Penggunaan bahan kelapa sangat cocok untuk lahan miring atau berbatu, dilihat dari kelenturan bahannya, contoh yang sudah diterapkan antara lain bekas areal tambang Freeport.

 

Cocomesh Solusi Reklamasi

Dikutip dari kompas.com, Asosiasi Industri Kelapa Indonesia (AISKI) bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) langsung memperkenalkan teknik pasca budidaya dan restorasi vegetasi dengan mengandalkan sabut kelapa.

Rencana ini muncul setelah ditemukannya teknologi briket coco peat sebagai media tumbuh yang paling efektif di daerah kritis dan daerah setelah penambangan, kata CEO AISKI Efli Ramli dalam siaran pers yang diterima Kompas (27/8/2012) “Teknologi ini akan segera kami integrasikan ke dalam area pertambangan,”

Teknologi pembuatan briket kelapa gambut ini diberi nama BiTumMan yang merupakan singkatan dari Biji Tumbuh Mandiri, menurut Efli, BPPT melakukan uji coba teknologi briket BiTumMan di kawasan pasca tambang batu bara di Kalimantan Timur.

Hal yang sama juga dilakukan di wilayah pasca-nikel di Sulawesi Tenggara. Fantastis. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan tanaman di bawah normal, kata Efli. Misalnya bibit albasia/sengon (Albizia falcataria) yang ditanam pada umur 6 bulan mencapai tinggi 1,5 meter dan tinggi 4 meter pada umur 18 bulan, ujarnya.

Menurut Efli, pihaknya untuk kegiatan daur ulang merekomendasikan penggunaan jaring kelapa berbahan dasar sabut kelapa dan briket gambut berbahan dasar kelapa parut kelapa. Selain mudah menyerap dan menahan air, jaring kelapa dan briket kelapa gambut juga mengandung nutrisi yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.

Banyak industri pertambangan di Indonesia menggunakan jaring kelapa untuk media daur ulang. Namun, angka tersebut tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di dalam negeri.

 

Nah, itu tadi adalah penjelasan mengenai cocomesh solusi reklamasi bekas petambangan, kalian juga bisa mendapatkan produk – produk cocomesh berkualitas melalui Rumah Sabut. Baiklah, cukup sekian dulu untuk artikel “Cocomesh Solusi Reklamasi Bekas Area Tambang” semoga bermanfaat, kunjungi juga artikel lainnya dan sampai jumpa!